Selasa, 08 Agustus 2017

Mawar Berdarah

Standard
Jam sudah menujukkan waktu 07.00 tapi sandra belum bangun juga suara mama yang dari tadi membangunkannya pun sudah mulai geram.
“San.. Sandra! Denger gak sih udah siang nih buruan sekolah sana kalo kamu telat nanti jalan kaki loh..”
“Iya.. Iya ma..” Di dalam hati sandra bergumam makanya kalau sekolahin anak tuh jangan jauh-jauh.

Sehabis mandi dan sarapan sandra memutuskan untuk langsung masuk mobil dan berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah pagar sudah hampir tertutup rapat tapi syukurlah sandra masih bisa masuk.
“Fiuhh… Hampir aja kalo telat dikit mampus gua”

Jam pelajaran pertama diisi dengan pelajaran kimia pelajaran yang hampir dibenci semua murid di kelasnya bukan hanya pelajarannya saja yang tidak disukai gurunya pun juga tidak disukai. Tiba-tiba di tengah pelajaran pak joko selaku kepala sekolah masuk dan meminta izin kepada bu prety guru kimia kami untuk mengatakan sesuatu. Sepertinya bu prety mengizinkannya.
“Anak-anak sebelumnya bapak punya berita penting yaitu teman kalian selly telah meninggal. Tidak diketahui apa sebabnya bapak hanya menemukan mawar merah yang berdarah dan yang lebih membuat bapak sedikit terkejut selly meninggal di dekat kamar mandi cewek.”


Riuh anak-anak pun saling bertebaran banyak yang mengatakan selly kan anak yang cantik, pintar, pokoknya bagus deh tapi kok bisa-bisanya dia meninggal. Sandra yang sedari tadi hanya diam melihat pak kepala sekolah bicara cuma tersenyum sinis di dalam hati sandra bergurau “makanya jadi cewek tuh gak usah sombong mentang-mentang kelas 12 jadi seenaknya ngebully adek kelas”. Sesudah pak kepala sekolah menyampaikan hal tersebut pak kepala sekolah pun pergi. Dan pelajaran di mulai seperti biasa hingga bel pulang pun berbunyi. Sandra pun memutuskan untuk pulang.

Sesampainya di rumah ia melihat ibunya tidak ada dan ia sudah bisa menebak kalau ibunya pasti ikut arisan. Pada saat hendak membuka pintu kamarnya sandra agak teekejut karena ia melihat sepucuk surat dan ada bunga mawar merah di atasnya. Sandra pun membuka suratnya dan dia agak kaget karena isi surat itu adalah “Kamu korban selanjutnya”. “Dasar orang gila kata sandra”. Dia pun membuang surat tersebut dan bunga mawar merah itu dan memutuskan untuk tidur sebentar.

Jam berbunyi dan sandra pun terbangun “astaga jam berapa ini?!” dilihatnya jam yang sudah menujukkan pukul 12 malam. Hp sandra yang sedari tadi berbunyi pun dia buka dan ada tiga pesan yang masuk ke hpnya dua dari orangtuanya dan satu dari orang yang ia tidak kenal, ia pun membuka isi surat pertama dari mamanya yang mengatakan “san… Maafin mama ya malam ini mama gak bisa pulang mungkin besok pagi mama baru di rumah” kebiasaan, batin sandra ia juga membuka pesan dari papanya yang mengatakan “san… Papa gak bisa pulang karena ada meeting mendadak di banten papa udah taruh uang di meja belajarmu jadi kamu boleh pake sepuas kamu” gak papa gak mama beda tipis, tukas sandra.

Tapi sandra penasaran dengan satu pesan lainnya pada saat ia hendak membukanya tercium bau mawar yang begitu tajam hingga menusuk hidungnya tapi karena penasaran sandra tetap membuka isi surat itu “aku tunggu kamu di dapur cepatlah aku sudah tak tahan” dasar gila siapa sih ngasih surat sekarang sms lagi. Kurang kerjaan kayaknya deh. Karena jengkel ia pun memutuskan untuk ke dapur dan meminum segelas air karena penasaran dengan orang yang menantangnya tadi ia pun berteriak “eh lo siapa pun yang nantangin gua keluar deh lo pikir gua takut apa” karena merasa ditipu sandra pun mengulang perkataanya tapi menurutnya itu ia gila jadi ia diam sambil mengatakan “gila tuh orang isengnya”

Pada saat hendak keluar dari dapur ia mencium bau mawar yang sama seperti yang ia cium di kamar tadi, ia merasa sedikit ketakutan tapi ia berusaha menghilangkannya, ia pun menoleh ke belakang dan melihat seseorang berjubah hitam memegang pisau mendekatinya, ia berjalan mundur tapi sepertinya itu sia-sia. Bbsshh.. Bunyi darah yang keluar dari tubuhnya.

Tepat sehabis itu orangtuanya pulang dan kaget melihat sandra yang sudah mati. “San… Sandra bangun sayang bangun” tak ada jawaban dari sandra mamanya pun hanya menemukan sebuah bunga, iya bunga mawar merah berdarah.

Ketakutan

Standard
“‘Ketika Di Hutan’, judul cerpen macam apa itu. Kukira tentang pertualangan tau-taunya horor”, keluh seorang gadis setelah membaca cerpen member grup Komunitas Bisa Menulis di facebook. Setelah meletakan ponsel di meja dia kemudian merebahkan dirinya di kasur untuk melepas lelah.
“Kok tidak seperti biasanya ya malam ini, sendiri di rumah membuatku ketakutan. Apa gara-gara baca cerpen tadi!”, pikir Anita siswi yang masih duduk di kelas 2 SMA itu.

Tiba-tiba suara tangisan seorang wanita terdengar jelas oleh Anita. Hingga benar-benar membuatnya ketakutan, “Suara apa itu?”. Dia kemudian melihat ponselnya bergetar di meja.
Anita melihat ponselnya, dia membaca tulisan di layar ponsel, “Malaikat maut sedang memanggil”. Dia gemetar tapi tetap memberanikan diri untuk mengangkat telepon.
Terdengar suara pemuda, “Haha, apa kamu ketakutan!”.
Anita mengenal suara dan gaya bicara yang menelponnya, dia kemudian bicara, “Radit, jadi kau pinjam ponselku di sekolah hanya buat ganti nama kontakmu di ponselku jadi malaikat maut?”.
Radit membalasnya, “Bukan itu saja, aku juga ganti nada deringmu dengan suara kuntilanak, keren kan?”.
Anita membentak Radit, “gak lucu tau!”. Lalu dia mematikan teleponnya.

Tiba-tiba suara berisik terdengar di ruang tamu, Anita kembali pasang muka ketakutan, “suara apa lagi itu?”. Dia penasaran dan mencoba melihat apa yang terjadi di ruang tamu. Tasnya bergerak sendiri. Keringat dingin bercucuran menghiasi wajah Anita yang cantik. Dia menendang sekencang-kencangnya tasnya hingga seluruh isi dalam tas keluar. Ada seekor ular bergerak yang ikut keluar dari tasnya.
Kaki Anita berdarah, dia kesakitan, “au, kok isi tasku kayak ada benda kerasnya gitu”. Terlihat ular yang keluar dari tasnya bergerak tidak beraturan.
Anita semakin kaget saat mencoba mendekatinya, “Pantesan yang kutendang tadi ternyata ular mainan!”.


“Hi hi hi”, suara kuntilanak terdengar di dalam kamar Anita. Karena terlalu takutnya dia mencoba memaksa membuka pintu keluar rumahnya yang terkunci.
Anita kemudian terdiam, “Sial, itu kan nada dering ponselku!”. Dia kemudian kembali ke kamar dengan membawa ular-ular mainan yang sudah konslet itu.

Sebuah telepon dari malaikat maut terlihat di layar ponsel Anita, dia kemudian mengangkatnya. Suara Radit terdengar, “Kalau tidak salah sekarang waktunya ular-ularanku bergerak di dalam tasmu?”.
Anita melihat ular-ularan di tangan kirinya dan kemudian bicara, “Iya sekarang mainanmu lagi di tanganku dan berhenti bergerak”.
Radit dengan nada bahagianya bicara, “Wah ternyata kamu tahu juga cara mematikan ular-ularan mainan itu. Itu sangat canggih loh, bisa diatur waktunya kapan harus bergerak”.
Anita sangat kesal, “Maaf sepertinya mainanmu rusak, aku tidak sengaja menendangnya”.
Radit kaget, “Apah?, bagaimana kakimu apa terluka?”. Anita langsung menutup teleponnya.

Suara musik terdengar di rumah tetangga Anita, “Apa-apaan sih, malam-malam gini masih berisik aja”.
Anita melihat rumah tetangganya di balik jendela, “mainkan musik kok seluruh lampu di rumahnya dimatiin. Dasar tetangga aneh”.

“Ah”, Anita ketakutan untuk kesekian kalinya mendengar suara nada dering ponselnya sendiri. Dia lalu mengangkat teleponnya, “Ada apa Ana, malam-malam telepon aku?”.
Ana bicara, “Aku ada info penting nih, mau tau gak?”.
Anita bersiap untuk mematikan teleponnya, “Bentar Ana, nanti telepon balik. Aku mau ganti nada dering ponselku dulu”. Dia kemudian mematikannya, mengganti nada dering ponselnya lalu ke luar rumah menuju rumah tetangganya untuk komplen karena berisik.

Sesampainya di muka rumah tetangga. Terdengar suara, “Di malam yang sesunyi ini… aku sendiri…”, nada dering ponsel Anita terbaru, kali ini tidak lagi suara kuntilanak melainkan suara Aril Noah idolanya dan bukan dari malaikat maut alias Radit teman yang suka usil tapi dari sahabatnya yang bernama Ana. Dengan senyum bahagianya dia mengangkat teleponnya, “Ada apa Ana, cie cie sahabatku yang udah kerja di rumah sakit?”.

Ana tertawa manis, “ah kamu bisa aja, aku mau kasih info penting nih, tetanggamu dia kecelakaan siang tadi dan tewas di rumah sakit, ini aku baru selesai mengotopsinya. dia kan tinggal sendiri sama sepertimu, pasti sekarang rumahnya sepi. Kalau kamu mau aku bisa ke rumahmu buat nginap menemanimu kebetulan waktu kerjaku sudah selesai”.

Tiba-tiba suara musik yang terdengar di dalam rumah tetangganya berhenti. Anita berdiri kaku tak bergerak dan melepaskan ponsel dari genggamannya.

Selfie

Standard
Ruslan remaja tujuh belas tahun yang sangat tampan. Wajah tirus, dagu lancip, bibir yang imut dan kulitnya putih nan berseri. Tatkala pipinya merona saat ia tersenyum. Ruslan sangat beruntung, ia mempunyai keluarga yang tergolong kaya. Apapun yang diminta Ruslan, Papa Ruslan pasti akan menurutinya.

Suatu saat Ruslan minta dibelikan Ponsel canggih dengan fitur selfie yang modern. Katanya dengan ponsel itu, saat selfie kita bisa terlihat tampan seperti boneka barbie. Papa Ruslan pun menurutinya. Esoknya ketika ingin berangkat sekolah Ruslan dikejutkan dengan Ponsel tipe terbaru canggih di atas meja makan. Ruslan pun girang bukan main.
Sebagai rasa ucapan terimakasih, ia memeluk erat Papa. “Makasih pa..! aku sayang sama papa” kata Ruslan.
Ia pun berangkat ke sekolah. Sekolah sebetulnya melarang siswanya membawa ponsel, tapi karena Ruslan merasa begitu senang dengan ponsel barunya, ia pun nekat membawa ponsel itu ke sekolah.

Selfie saat ini menjadi tren di kalangan masyarakat. Tua, muda, dewasa, bahkan anak-anak pun bisa melakukan selfie.
Ruslan tak henti-hentinya memandangi tampan parasnya lewat kamera depan ponselnya. Ia melakukan selfie bah wefie dengan teman-temannya berkali-kali.
Saat pelajaran pun tak terlewatkan untuk selfie. Di kamar mandi sekolah, di kantin, bahkan di perjalanan pulang. Di tengah perjalanan pulang, ia menemukan tempat yang bagus untuk selfie. Meski tempat itu di pinggiran jalan raya, Ruslan pun tak peduli. Ia dengan penuh semangat memposisikan dirinya dengan pose-pose menarik di depan kamera ponsel barunya.


Tak terasa lima belas menit berlalu di tempat itu, namun langit mulai gelap. Angin dingin bertiup agak kencang. Jakarta yang tadi terasa terik, tiba-tiba diselimuti awan mendung. Ruslan agak heran, karena cuaca harusnya masih panas sekarang. Mengingat musim hujan belum saatnya datang.
Ruslan pun kemudian memutuskan pulang ke rumah. Tak lupa setiap beberapa langkah ia melakukan selfie lagi. Sesampainya di rumah, Ruslan tak mendapati keluarganya. Mungkin sedang keluar rumah entah kemana. Ia kemudian beristirahat di kamar tidurnya.

Ruslan tak pernah membayangkan hal yang aneh tentang ponsel itu. baru atau bekas, dari mana dibelinya ia tak pernah bertanya pada Papa. Sambil melepas lelah di atas ranjang, Ruslan pun membuka galeri di dalam ponselnya. Ia lihat satu persatu foto hasil jepretannya.
Terkadang Ruslan senyum-senyum sendiri, tatkala ia gemas melihat wajahnya yang begitu tampan dan imut. Sampai di tiga foto terakhir Ruslan kebingungan.
Ia merasa sudah mengambil foto dengan benar, dan tak ada hal yang aneh saat ia selfie di jalan tadi. Namun foto-foto itu terlihat aneh.

Bulu kuduk Ruslan berdiri. Ia beranjak dari tempat tidurnya mencari papa. Ruslan beranggapan bahwa ponsel itu mungkin cacat produk dari dealernya. Ia ingin menunjukkannya pada Papa dan Mamanya. Tak lama terdengar langkah derap sepatu masuk ke rumah Ruslan. Ruslan mengira itu keluarganya yang baru saja pulang, ia kemudian berlari menuju pintu utama. Ia membuka pintu, tak terlihat seorangpun di sana. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Dan tak ada seorangpun yang terliihat saat itu. Ruslan pun bergegas masuk lagi ke dalam kamar.

Merasa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Ruslan menelpon papa, panggilan Ruslan diangkat, tapi yang terdengar hanya suara tangis orang banyak di dalam ponsel. Ruslan kemudian mematikan ponselnya dan bersembunyi di balik selimut. Ruslan sangat ketakutan. Urat-uratnya menegang, tubuhnya terasa kaku dan dingin. Nafasnya tersengal-sengal. Ia merasa ada orang yang memperhatikannya di dalam kamar itu. ia pun gemetar. Lama merasakan suasana mencekam sampai akhirnya Ruslan tertidur di balik selimutnya.

Keesokan paginya ia bangun dan siap-siap berangkat lagi kesekolah. Meja makan terlihat kosong, keluarganya tak kunjung pulang. Ruslan mulai khawatir takut terjadi apa-apa. Panggilannya ke nomor ponsel keluarganya tak kunjung diterima. Ia kemudian ke luar rumah dalam keadaan masih memakai seragam, seragam yang kemarin ia pakai dan tak sengaja sampai tertidur dan masih ia pakai pagi ini. Bajunya terasa lengket dan tidak nyaman. Seperti habis terkena tumpahan sesuatu yang berbau amis.

Sekeluarnya dari rumah, Ruslan menemukan koran langganan keluarganya di depan pintu. Tak disangka, foto Ruslan tempampang di halaman utama. Di koran itu wajahnya terlihat masih tampan dan manis, di samping fotonya ada gambar terlihat beberapa orang yang mirip keluarganya sedang menangis. Ia pun mengalihkan perhatiannya menuju judul berita penting pagi yang menyertakan fotonya itu, dan tertulis.

“SELFIE RUSLAN BERUJUNG MAUT, TERTABRAK TRUK SAMPAH”

Mimpi Buruk

Standard
Pada hari Kamis, aku mengikuti sebuah kegiatan di sekolah. Karena sesuatu hal, ketua dari panitia yang mengadakan kegiatan tidak dapat hadir dan menjadikan peserta kegiatan harus pulang ke rumah masing-masing. Karena aku masih memiliki tugas yang cukup banyak, aku menyempatkan diri untuk mengerjakan tugas tersebut.
“Daripada aku pulang dan di rumah sepi, mendingan aku ngerjain tugas dulu…” kataku sambil berjalan menuju kelasku.

Kenapa tiba-tiba suhu ruangan menjadi berbeda dari sebelumnya. Mungkin ini hanya pikiranku yang mengada-ngada saja. Setelah 15 menit berlalu, tiba-tiba lampu di kelas mati.
“Pyarrr…” suara itu membuatku sedikit merinding. Karena rasa penasaran yang cukup tinggi, akhirnya aku pun mencari tau apa yang sedang terjadi.
“Kenapa suasana di sekolah ini tiba-tiba menyeramkan ya?” tanyaku dalam kesendirian.

“Hei, sedang apa kau di sana?” tiba-tiba ada yang memanggilku dari belakang. Aku pun segera menoleh ke belakang dan ternyata yang memanggil adalah Pak Arman.
Pak Arman adalah orang yang menjaga sekolahku setiap malam dan orang yang sangat pemberani. Kata beliau, jam 5 sore anak-anak yang ada di sekolah harus segera pulang untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.
“Ini pak, tadi saya mendengar ada benda jatuh dan saya mencari tau, Pak!” jawabku dengan terbata-bata.
“Bapak peringatkan ke kamu ya! Kamu harus pulang ke rumah sekarang juga. Bapak tidak ingin mendengar kabar buruk tentang anak-anak di sekolah” kata Pak Arman memperingatkanku untuk pulang.
“Emangnya apa yang terjadi di sekolah ini, Pak?” tanyaku penasaran.
“Kalau kamu memang penasaran dan ingin mencari tau apa yang sebenarnya terjadi, nanti malam kamu ikut bapak untuk jurit malam keliling sekolah!” pinta Pak Arman.
“Iya pak, saya mau kok” jawab dengan tegas.


Tidak terasa waktu yang aku tunggu-tunggu telah tiba. Sebelum kami berangkat untuk jurit malam, kami berdua makan dan sholat dahulu. Setelah itu, Pak Arman memberiku senter.
“Bawa senter ini dan jaga baik-baik ya!” pinta Pak Arman.
“Iya pak, saya akan menjaganya dengan baik” jawabku.

Setelah itu, kami berdua menyusuri parkiran sepeda. Sedikit demi sedikit, bulu kudukku mulai berdiri. Setelah lama berjalan, akhirnya kami sampai di tempat yang katanya menyeramkan. Kata teman-temanku, di tempat ini sering terjadi kejadian kesurupan secara massal dan kejadian tersebut terjadi pada siang hari.

“Pak, apa benar tempat ini menyeramkan?” tanya kepada Pak Arman.
Tetapi, kenapa Pak Arman tidak membalas pertanyaanku. Dengan perasaan yang takut, aku menoleh ke belakang dan “BOOM” serasa dibom atom oleh sekutu.
“Pak… Pak… Pak Arman…” teriakku dengan kencang memanggil Pak Arman.

Tiba-tiba suara lolongan serigala yang menyeramkan terdengar dari kejauhan yang membuatku tambah merinding dan ditambah lagi ada sesosok wanita yang sedang bergelantungan di pohon.
“Aaaaaa…” dengan tergesa-gesa dan tanpa pikir panjang, aku langsung berlari sekuat tenaga dan “Bruuuk” aku terjatuh dan tidak sadarkan diri.

“Kring…” suara alarm yang berbunyi kencang membangunkan tidurku.
“Alhamdulillah… ternyata itu semua hanya mimpi” kataku sambil berjalan keluar kamar. Setelah bermimpi seperti itu, aku berjanji untuk selalu berdoa sebelum tidur agar aku dilindungi dari mimpi buruk.

Misteri Perpustakaan Sekolah

Standard
Hari ini hari pertama aku masuk sekolah baru setelah mendapatkan hasil nilai UN yang dapat dikatakan siswa tersebut telah lulus. Aku masuk di SMPN 20 pekanbaru yang termasuk SMP favorit.

“Perkenalkan namaku nadinda laura, asal sekolah dari sd 177 pekanbaru.” kataku saat memperkenalkan diri saat berada di kelas.

Oh ya, kelas yang kutempati untuk belajar adalah ruang kelas 71. Selama sekolah, aku sering melihat hal hal yang aneh. Seperti suara yang memanggil aku. Suara tersebut berasal dari perpustakaan.
Di sekolah aku mendapatkan banyak teman. Namanya aqila, suha, mutia, dhea, dan fatimah. Tapi aku lebih sering bersama dengan aqila. Hal yang membuat aku suka di sekolah ini adalah perpustakaannya. Dalam perpustakaan ada banyak buku yang aku sukai, dan ruangannya ada ACnya.



Sekarang aku telah menduduki kelas 3 smp. Ruang kelas aku adalah kelas 91. Sampai sekarang aku masih tetap suka pergi ke perpustakaan. Tapi, pada suatu hari, saat aku berada di perpustakaan, aku melihat ada sebuah buku. Buku tersebut sudah usang dan berdebu. Di belakang buku itu ada sebuah surat yang bertuliskan ‘tolong aku’ yang aku pikir menggunakan tinta merah. Tapi saat aku menyentuh tulisan itu, tintanya lengket ke tanganku dan baunya sangatlah anyirr. Segera aku meletakkan buku itu kembali dan pergi dari perpustakaan itu karena bel pelajaran sudah berbunyi. Selama belajar, aku tidak bisa konsentrasi karena memikirkan hal tersebut.

Bel pulang sekolah berbunyi. Saat di rumah aku masih kepikiran kejadian tadi. Karena lelah, aku pun tertidur. Saat ku terbangun, jam masih menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Aku terbangun karena aku bermimpi melihat seorang perempuan yang mau melahirkan di ruang perpustakaan. Saat itu datanglah seseorang yang menggunakan cadar hitam yang membawa pisau dan kemudian membunuh wanita hamil tersebut.

Keesokan harinya, saat jam istirahat, aku menceritakan tentang buku dan mimpi yang aku alami. Ternyata kawanku, aqila juga merasakan hal yang sama. Saat kami sedang bercerita tentang hal tersebut, tiba tiba datanglah bu tika. Ia dikenal sebagai guru yang disiplin sekali. Melihat ibu tika lewat, kami pergi untuk menyalami tangan ibu tersebut. Tiba tiba aku teringat tentang mimpi semalam, bahwa seseorang pembunuh tersebut seorang wanita yang jari tangannya ada enam di tangan kanan.

“Qil, pasti ada kaitan antara mimpi kita semalam dengan perpustakaan sekolah.” kataku sambil berbisik.
“Aku juga berpikir begitu, bagaimana kalau kita selidiki nanti malam sekitar jam 11.00. Kita nanti pergi ke sekolahnya sama sama. Dinda nanti kamu tunggu aku di warung ‘mustika’. Gimana?” Usul aqila.
“Oke.” kataku bersemangat.

Bel pelajaran dimulai pun berbunyi. Proses belajar mengajar lancar. Tak lama kemudian, bel pulang berbunyi. Aku pulang secepatnya dan mempersiapkan alat yang dibawa nanti. Saat kami sudah berkumpul di warung ‘mustika’, kami pun pergi bersama sama ke sekolah.
Suasana sekolah sangatlah menyeramkan. Kami pergi ke ruang perpustakaan. Sialnya, pintu perpustakaannya terkunci. Tapi kami masuk lewat jendela. Saat di dalam perpustakaan, ada hantu perempuan yang perutnya bolong. Itu hantu sundel bolong.

“Aaa…, si.. Siapa kamu? Apa mau kamu?.” kataku ketakutan.
“Jangan takut, aku hanya minta bantuan dari kalian, tolong aku…” kata hantu tersebut.
“Minta bantuan apa?.” kataku.
“Tolong… Kalian tangkap guru yang sudah membunuhku. Carilah jasad ku dan kuburkan secara layak…!” Kata hantu tersebut.

Saat itu datanglah seorang wanita pakai cadar yang membawa pisau. Ia hendak menancapkan pisau itu ke aku, tapi aku berhasil mengelak. Saat itu aku pun berhasil membuka cadarnya.
“I.. Ibu.., apa yang ibu lakukan, kenapa ibu ingin membunuh kami?” Kata aqila terkejut karna ternyata wanita yang hendak membunuh dinda itu adalah bu tika.
“Aku akan membunuh kalian karena kalian sudah mengetahuinya.” jelasnya.
“Jadi, ibu juga yang membunuh wanita itu.” kataku.
“Iya, dia sudah berani ingin melaporkan aku ke polisi karena dia tahu kalau aku korupsi di sekolah ini. Aku tidak ingin itu terjadi. Dan kalian juga akan menemani wanita itu di neraka.” katanya sambil memainkan pisaunya.

Saat dia ingin menusuk ku dengan pisau, tiba tiba datang hantu tersebut dan mengarahkan pisaunya ke bu tika sampai bu tika tidak berdaya. Ia akhirnya pingsan. Aqila segera menelepon polisi.
Hantu itu memberi tahu tempat di mana jasadnya dikubur. Ternyata jasadnya di kubur di bawah lantai perpustakaan tersebut.

Tak lama kemudian datang lah polisi, kami menceritakan kejadian tadi. Polisi juga menahan bu tika. Kami juga memberi tahu jasad wanita tersebut dan menguburkannya secara layak. Saat itu aku melihat hantu itu, wajahnya sudah berubah, ia sangat cantik dan ia tersenyum lalu pergi menghilang. Ia sudah tenang.

Sumur Misterius

Standard
Aku Putri. Hari ini adalah hari pertama Aku, Nia, Yani, dan ayah Yani berwisata.
Tempat wisata cukup jauh, dan konon, di jalan ada sumur misterius. Katanya, ada dua orang yang meninggal di sumur itu karena jatuh ke dalam. Orang yang melihat sumur itu harus meminum air di sumur itu, setelah itu, ia harus berteriak, “Keiko, Aiko!” Kalau tidak, ia akan meninggal.
Orang yang satu-satunya tak percaya adalah Yani. Ayah Yani selalu memperingati Yani, tapi Yani tak mempercayainya. Ya, Ayah Yani percaya. Banyak teman teman Ayah Yani menjadi korban.

Sekarang, waktunya melewati sumur itu. Ayah Yani terus melihat ke depan.
“Ih, ayah! Sumur itu!” Yani melihat ke arah sumur itu.
Tiba-tiba, Ayah Yani, Pak Irwan memberhentikan mobil.
“Yani, turun.” Pak Irwan menyuruh Yani melakukan apa yang disuruh ‘sumur’ itu.
Yani enggan turun. “Ih, ayah percaya? Sumur gitu aja. K-khaan.. Yha-ni..” Yani terlihat seperti tercekik.
Aku, Nia dan Pak Irwan berusaha menolong.
“Oh! Ada yang berkata kalau ada yang tercekik, artinya mereka sudah keluar.” Kata Pak Irwan.
“K-keiko, dan Aiko?” Tanyaku dan Nia gugup.
“Iya. Ke mana saja Aiko pergi, Keiko akan mengikuti. Waktu itu, Aikolah yang jatuh ke sumur. Keiko berusaha membantunya, tapi mereka berdua meninggal karena tenggelam.” Jelas Pak Irwan.

“Yani tak akan selamat. Sebentar lagi, Aiko akan membawa Yani ke sumur. Keiko akan menunggu di sumur, lalu mencekiknya hingga tenggelam. Saya memberhentikan mobil demi keselamatan kalian dan saya sendiri. Karena kalau kabur membawa orang yang tercekik, maka semua yang mencoba kabur akan mengalami nasib serupa.”
Aku dan Nia semakin takut.



Tiba-tiba, Yani menghilang. “Aiko membawanya.” Kata Pak Irwan.
Kami tak melihat ke sumur itu.
“Kami aman.” Pak Irwan langsung melajukan mobil agar kami selamat.

“Hufft..” aku, Nia, dan Pak Irwan sampai ke tempat wisata. Kami bersenang senang. Tapi, akan lebih seru bila ada Yani.
Kami lewat jalan lain. Walau lebih jauh, ya, yang penting kami aman.
Yani, kami akan selalu mengingatmu.

Saat sekolah masuk, Bu Nur menyuruh kamu menulis pengalaman saat liburan. Bu Nur sempat tak percaya.
“Apa? Aiko dan Keiko benar benar ada?” Tanya Bu Nur. “Dan.. mereka membawa Yani?”
“Ya, Bu.” Jawab aku dan Nia. “Yang sabar, ya.” Kata Bu Nur.

Rumah Kosong

Standard
Waktu itu pukul menunjukan jam 22.00. Entah mengapa ibu dan ayah memutuskan membeli rumah dan pindah di samping rumah yang menurutku seram dengan lingkungan yang gelap.

Aku terdiam melihat lingkungan rumahku. Saat aku pertama membersihkan kamar entah kenapa aku merasa ada yang berbeda. Aku melihat bingkaiku jatuh tanpa ada hal apapun. Angin semakin kencang kurasa di kamar ini.

Tak terasa waktu menunjukan pukul 23.00 aku tertidur karena lelah di kamar baruku itu. Tapi saat aku tertidur. Aku mendengar suara gemericik air entah dari mana. Dan semakin menyeramkan saat aku terdiam dan melihat jam sudah pukul 23.55. Terdengar suara lolongan anjing dan diteruskan dengan isak tangis.
“hemmm hikhik” suara itu terdengar semakin keras dan menyeramkan. Aku mencoba memejamkan mata. Tapi sungguh aku takut. Dan suara itu semakin keras.
Aku melihat sesosok bayangan lewat di belakang jendela kamarku. Tuhan sungguh aku takut aku terdiam dan menutup wajah dengan selimut.



Semua itu belalu untuk setiap malamnya. Setelah aku rasakan ternyata semua suara itu dari rumah sebelah. Rasa penasaranku teramat kuat. Aku bertanya pada mamah “mah rumah samping kita itu kosong apa enggak si?”
“loh kosong kok kak, kenapa emangnya?” jawab mamaku yang membuatku semakin penasaran.

Aku pergi ke rumah itu saat pulang sekolah, aku malihat lukisan besar dengan gambar seorang keluarga dengen senyum kebahagian, rasa penasaranku pun muncul saat aku melihat pintu terbuka entah dari mana. Aku masuk ke dalam ruangan yang sungguh menyeramkan. Aku mencium bau amis yang amat sangan menusuk hidungku.
Ternyata ruang tidur orang terdahulunya mungkin (pikirku dalam hati)

Aku pergi dari kamar itu, tapi entah dari mana aku mendengar suara tangisan itu lagi. Tangisan yang membuat bulu kuduku berdiri. Suara tangisan lirih seperti orang yang menyimpan rasa sakit teramat dalam. karena takut aku berlari dan bergegas pulang. Oh tuhan sungguh aku takut.

Belum sempat keluar rumah aku melihat sebuah buku catatan. Mungkin diary, karena penasaran aku mengambilnya. Buku itu usang berdebu dan kotor. Penuh darah yang sudah berubah coklat. Aku mulai membacanya. Isinya adalah:

Tuhan kenapa kau tega mengirimkan iblis kejam dari nerakamu untuk merenggut kebahagian keluargaku, kenapa kau tega mebiarkanku melihat kedua orangtuaku dibunuh dengan kejam, kenapa tuhan? Kenapa kau membiarkanku sendirian? Aku takut, aku bingung dan
Kini takan ada lagi kesepian yang merajai hidupku, karena aku akan pergi untuk menyusul kedamaian abadi kedua orangtuaku. Dengan kematianku

Aku terkejut melihat semua tulisan itu. Ternyata itu tulisan terakhir anak pemilik rumah itu. Aku berdoa dalam hati untuk ketenanganya sekarang. Semoga semuanya akan baik dan aku bisa tenang dengan rumah baruku.