Mataku terbuka perlahan. Aku mencoba mengingat kejadian sebelum aku pingsan tadi. Tidak!. Sekarang aku ada di mana?. Di sebuah ruangan yang penuh dengan potongan tubuh manusia. Kedua tanganku dirantai, kakiku juga dirantai. aku mencoba berteriak agar ada yang bisa menolongku.
Seseorang membukakan pintu, hah! Daniel! dia Daniel sahabatku, kenapa dia ada di sini?, kenapa dia menghampiriku dengan tatapan seperti itu?, kenapa dia menyalakan gergaji mesin?, lalu kenapa pula dia mulai mengarahkan gergaji itu ke arahku. Jangan-jangan..?.
“Niel… Hentikan!!” teriakku panik. “Aku tidak akan pernah menghentikan aksiku, Hans!” Balas Daniel, bukannya menjauhkan gergaji mesin itu, tapi dia malah semakin mendekatkan gergaji itu. Aku berontak. Rantai itu lepas. Terkena gergaji mesin yang menyala dengan buasnya. Rantai-rantai itu putus, aku bergidik melihatnya, aku tidak bisa membayangkan bila tubuhku yang terkena gergaji itu.
Tanganku sudah terlepas, tapi sayangnya kakikku masih dirantai. Dengan kuat, Daniel mengarahkan gergaji mesin itu ke arahku. Tiba-tiba.. “Bukk!!!” Romy datang memukul Daniel hingga terjatuh. Romy mencoba melepaskan rantai di kakiku dengan golok. setelah terlepas kami berdua kabur ke luar.
Aku terkejut melihat pemandangan di depan mataku. Banyak kepala-kepala yang terputus dari tubuhnya, darah yang berceceran, potongan-potongan tubuh, bahkan Tangan dan kaki. Bau anyir yang sangat menusuk hidungku membuat aku mual, sangat mual!. Aku ingin muntah!.
Tiba-tiba sebuah busur panah melesat menuju arahku. aku histeris, Benda tajam itu hampir saja melukai dadaku. Daniel berlari ke arahku dengan busurnya. Aku berlari menghindar, tapi Daniel terus mengincarku, busurnya melesat ke arahku, namun Romy mendorongku. Busur itu menancap di dada kiri Romy, Ia ambruk dengan darah yang bercucuran. “Hahahaha…., Rasakan itu bodoh, selama ini aku ingin membunuhmu! tapi baru sekarang kesampaian, hahahaha..” ucap Daniel puas. Aku terhenyak, dan berlari ke arah pintu keluar. Tapi sayang, pintu itu terkunci, tidak mungkin aku membuka pintu itu dengan cepat, karena Daniel sudah ada di dekatku.
Aku melihat sebuah guci, Segera aku ambil dan lempar ke arah Daniel. ia terjatuh, dan aku berlari ke lantai dua. Aku berlari dan terus berlari, Daniel terus mengejarku. Aku melihat sebuah senapan, Aku ambil senapan itu dan mengarahkan ke arah Daniel. Sial! senapan ini tak berfungsi. Aku terus berlari hingga akhirnya aku terjebak.
Daniel datang, aku tak bisa berbuat apa apa, yang bisa kulakukan saat ini hanyalah berdoa. “Ini saatnya!” Desis Daniel. “Ya tuhan, aku mohon jangan sekarang!” ucapku dalam hati. Aku melihat sebuah Golok di sampingku. aku segera meraihnya dan melemparkannya kuat kuat ke arah Daniel, tepat mengenai lengan kiri Daniel. Darah segar mengalir dari lengan Daniel, Busur tadi terjatuh, Daniel ambruk. Ia menggeram lalu bangkit dan mendorongku. Aku terdorong mengenai jendela, dan “Aaaaaaaa…”aku berteriak, Kami berdua terjatuh dari lantai dua.
Tubuhku berdarah darah, tulangku berasa remuk, Daniel diam tak bergeming, dia mati?. Aku segera berlalu sebelum Daniel terbangun, dengan terpincang pincang, Aku Pergi dari tempat itu. Tapi, entah dari mana asalnya, Sebuah busur melesat menusuk punggungku hingga menembus ke depan. aku terjatuh, yang kuingat hanyalah suara tawa di ujung jalan, Dia Daniel!.
Selasa, 08 Agustus 2017
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar