Selasa, 08 Agustus 2017

Rumah Sakit Terbengkalai

Standard
Orang-orang di sekitarku selalu menilaiku sebagai orang yang super pemberani. Terutama pemberani pada hal-hal mistis. Ya, memang aku membenarkan semua ini, tapi, mereka menilaiku begitu hanya karena aku berani memelototi film horror yang sedang kutonton, tidak lebih.

Aku sedikit bangga dengan predikat itu. Tapi rasanya ada yang kurang. Kurasa, film horror saja tidaklah cukup. Aku ingin membuktikan kepada mereka bahwa keberanianku lebih dari itu. Aku harus merasakan yang sesungguhnya.

Kotaku tak terlalu tua. Tapi yang namanya hantu sih tidak peduli soal umur kota. Legenda yang paling terkenal di kotaku yaitu rumah sakit terbengkalai di pinggiran kota. Rumah sakit itu terletak di Jalan Aljabar yang sepi dan agak suram saat gelap datang.


Ah, tempat yang cocok, pikirku. Kurencanakanlah petualangan nyata pertamaku di dunia supranatural yang menantang sekaligus seru. Aku juga berencana akan mengabadikan perjalananku dalam bentuk video yang akan aku pamerkan pada YouTube dan teman-teman sekolahku. Besok menjadi hari yang sangat cocok untuk memulainya. Dan malam ini persiapannya sudah lengkap. Oh, bodohnya diriku. Andai aku tahu apa yang akan terjadi setelah itu, pasti aku akan membatalkan semuanya.

Ini Minggu pagi, dan aku sendirian di rumah. Keluargaku yang lain menginap di hotel dalam acara kantor Ayah. Yang terus kupikirkan sepanjang hari adalah nanti malam. Malam yang akan mencekam pada hari Minggu. Oh ya, aku tak memberitahukan rencana konyol ini pada siapapun. Biarkan ini menjadi kejutan bagi mereka. Wah, pastinya akan datang banyak pujian untukku yang pemberani ini. Atau bahkan, video yang kuunggah akan menjadi viral.

Akhirnya senja mulai menyemangatiku untuk memulai permainannya. Kugemblok tas ranselku yang hampir kosong. Senter, jaket, ponsel, dan perlengkapan lainnya sudah bersarang di dalam ranselku. Aku memilih untuk naik sepeda ke sana, karena itu hanya berjarak dua kilometer.

Aku pun sampai di rumah sakit itu. Tidak kusangka, tempat ini memang luar biasa sunyi dan ungkapan-ungkapan lainnya yang dapat mendeskripsikan sesuatu yang bahkan kau tidak ingin melihatnya. Kusandarkan sepedaku di pos yang berukuran sedang.

Lagi-lagi menurut legenda, sebaiknya kau jangan melihat ke belakang, atau penghuni di sana akan menyerangmu. Lebih baik aku mematuhi saja kabar itu. Aku mulai memasuki halamannya yang dengan lebatnya ditumbuhi segala macam tumbuhan yang tak beraturan. Oke, aku tak akan menceritakan pengalamanku ini dengan panjang lebar.

Setelah hampir dua jam aku memuaskan rasa ingin tahuku di sana. Hasilnya nol, benar-benar nihil. Kenapa bisa seisi kota mengatakan hal yang sama, tepatnya omong kosong yang sama. Percayalah padaku, yang paling mungkin membuatmu ngeri di sana hanyalah kerumunan kecoak yang tentu bukan makhluk halus. Segera kuhentikan rekaman video yang semenjak aku masuk tempat kepar*t ini terus menyorot. Kecewa betul diriku hari ini.

Saat aku sampai di rumahku, seluruh perumahan rasanya sudah terlelap. Pasti yang sangat ingin aku lakukan sekarang adalah mandi. Aku melempar semua barang-barang yang dalam aksi tadi menjadi satu-satunya teman. Kubuka pintu kamar mandi yang terbuat dari kayu jati itu. Aku mengurungkan niatku untuk mandi. Kurasa menyikat gigi saja cukup.

Kulangkahkan kakiku menuju wastafel. Aku menyambar sikat gigiku, lalu mengoleskan pasta gigi di atasnya. Begitu aku menatap ke arah cermin di atas wastafel, aku kembali mengingat pesan itu. Jangan melihat ke belakang, atau mereka akan menyerangmu. Ya, dia ada di sana, bahkan dia menatapku, dan tiba-tiba terasa cakaran yang menyengat pada leherku. Semua… ini… nyata dan rupanya baru dimulai.

0 komentar:

Posting Komentar